Demo Mahasiswa Tolak Militerisme di Jayapura Ricuh, 4 Orang Terluka

JAYAPURA – Massa aksi Demo Mahasiswa Tolak Militerisme di Jayapura terlibat bentrokan sengit dengan aparat keamanan pada Senin (27/4/2026). Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Papua awalnya ingin menyuarakan penolakan terhadap kehadiran militer di tanah Papua. Namun, suasana di lapangan berubah mencekam saat polisi menghadang niat massa yang hendak melakukan aksi jalan kaki atau longmarch di jalan-jalan protokol.

Massa Memadati Berbagai Titik Strategis di Jayapura

Sejak matahari terbit, gelombang mahasiswa sudah menguasai beberapa titik kumpul utama di Kota Jayapura. Mereka memenuhi kawasan Expo Waena, Perumnas III, hingga area Lingkaran Abepura yang merupakan jantung aktivitas kota. Selain itu, para demonstran juga memadati gerbang kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). crs99 daftar

Mahasiswa dari arah Perumnas III dan Expo Waena semula berencana melakukan mobilisasi massa menuju Lingkaran Abepura. Mereka ingin menyatukan seluruh kekuatan massa agar aspirasi mereka terdengar lebih lantang. Akan tetapi, aparat kepolisian sudah berjaga ketat di setiap jalur penghubung untuk mengantisipasi pergerakan tersebut.

Selanjutnya, polisi membangun barikade manusia dan kendaraan taktis di jalur-jalur utama. Langkah ini bertujuan untuk membatasi ruang gerak massa agar tidak masuk ke jalan raya utama yang padat kendaraan. Meskipun mahasiswa terus merangsek maju, petugas tetap bertahan pada posisi mereka guna menjaga stabilitas keamanan kota.

Alasan Kepolisian Melarang Aksi Longmarch

Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus Macklarimboen, memberikan penjelasan mendalam mengenai tindakan personelnya di lapangan. Beliau menegaskan bahwa pihaknya menghargai kebebasan berpendapat setiap warga negara Indonesia. Namun, beliau secara khusus melarang metode longmarch karena berpotensi memicu kekacauan yang lebih besar.

“Pada dasarnya kami tidak melarang untuk menyampaikan pendapat, namun yang kami larang adalah melakukan longmarch,” tegas Fredrickus. Beliau merujuk pada pengalaman masa lalu di mana Kota Jayapura memiliki riwayat kelam terkait aksi jalan kaki yang berakhir anarkis. Oleh sebab itu, polisi lebih menyarankan mahasiswa untuk melakukan orasi di titik-titik yang telah mereka tentukan sebelumnya.

Kombes Pol Fredrickus juga mengkhawatirkan adanya oknum tidak bertanggung jawab yang menyusup ke dalam barisan mahasiswa. Jika hal itu terjadi, maka situasi keamanan bisa lepas kendali dalam waktu singkat. Maka dari itu, kepolisian memilih tindakan preventif dengan melakukan penghadangan di lokasi-lokasi awal keberangkatan massa.

Detik-Detik Kericuhan dan Tembakan Gas Air Mata

Ketegangan mencapai puncaknya ketika kelompok massa tetap memaksakan kehendak untuk menembus barikade polisi. Akibat penghadangan tersebut, para peserta aksi mulai terpancing emosinya dan melakukan tindakan konfrontatif. Massa melempari petugas yang berjaga menggunakan batu, botol kaca, serta benda keras lainnya yang mereka temukan di sekitar lokasi.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, polisi segera mengambil tindakan tegas guna membubarkan massa. Petugas mengerahkan unit water cannon untuk menyemprotkan air ke arah kerumunan yang beringas. Selain itu, polisi juga menembakkan gas air mata berkali-kali untuk memecah konsentrasi massa yang terus melakukan pelemparan.

“Kita sudah berkoordinasi dengan mereka untuk tidak melakukan longmarch, namun justru kami dilempar,” ujar Fredrickus saat meninjau lokasi. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan gas air mata merupakan langkah terakhir untuk melindungi personel dan masyarakat umum dari amukan massa. Setelah rentetan tembakan tersebut, massa akhirnya mulai kocar-kacir menyelamatkan diri ke area pemukiman dan kampus.

Baca Juga: 7 Peristiwa Internasional yang Jadi Sorotan Media Konvensional

Empat Korban Mengalami Luka Akibat Lemparan Batu

Insiden dalam Demo Mahasiswa Tolak Militerisme di Jayapura ini mengakibatkan sejumlah orang mengalami cedera cukup serius. Berdasarkan laporan medis, terdapat empat korban yang membutuhkan penanganan darurat di rumah sakit. Tiga korban di antaranya merupakan personel kepolisian yang terkena hantaman batu saat mengawal jalannya aksi.

Selain aparat, seorang warga sipil yang berada di lokasi kejadian juga menjadi korban salah sasaran. Benturan benda keras mengenai tubuh korban hingga menyebabkannya jatuh tersungkur. Petugas medis segera mengevakuasi seluruh korban menuju Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani perawatan intensif.

“Ada tiga anggota kami yang terkena lemparan batu. Dua orang dirawat di RS Bhayangkara sementara satunya masih aman,” tambah Fredrickus. Beliau memastikan bahwa kondisi warga sipil yang menjadi korban kini sudah berangsur stabil. Pihak kepolisian menyesalkan adanya korban luka dalam aksi yang seharusnya bisa berlangsung secara damai dan tertib tersebut.

Mediasi Pimpinan DPR Papua dengan Mahasiswa

Sebagai upaya mendinginkan suasana, kepolisian tetap membuka ruang komunikasi dengan para koordinator lapangan. Polisi mengarahkan massa untuk kembali berkumpul secara teratur di Lingkaran Abepura untuk membacakan tuntutan mereka. Di sisi lain, Kapolresta juga menjalin koordinasi cepat dengan otoritas politik di tingkat provinsi.

Kapolresta menghubungi pimpinan DPR Provinsi Papua agar mau turun langsung menemui para pendemo yang masih bertahan. Kehadiran wakil rakyat ini terbukti efektif dalam meredam kemarahan mahasiswa yang merasa aspirasinya terhambat. Akhirnya, beberapa anggota dewan tiba di lokasi aksi untuk berdialog dan menerima dokumen tuntutan dari mahasiswa secara resmi.

Fredrickus menekankan bahwa tertib dalam berdemo adalah syarat mutlak agar aspirasi sampai ke telinga pengambil kebijakan. Beliau sangat mengapresiasi pimpinan DPR Papua yang bergerak cepat dalam membantu proses mediasi ini. “Artinya kami tidak melarang penyampaian pendapat, namun harus tertib,” tutupnya kepada awak media sebelum meninggalkan lokasi.

Menjelang sore hari, aparat mulai menarik diri secara perlahan setelah massa membubarkan diri dengan tertib. Kendati demikian, sejumlah unit patroli masih tetap berkeliling di sekitar Abepura dan Waena guna memantau perkembangan situasi. Polisi berharap kejadian serupa tidak terulang kembali dan mengimbau mahasiswa untuk selalu mengedepankan jalur dialog yang damai.